Menulis (verba.)

 



Menulis (v); melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan 

[KBBI VI]


Selamat tahun baru 2026 buat yang kebetulan nyasar ke postingan yang sangat personal ini. Entri ini random gua ketik di tanggal 1 Januari malam gegara gua sedang dalam mode merefleksikan tahun yang sudah lewat (gaya banget). Atau yah, sebenarnya lebih ke kegabutan gua ditinggal liburan sama keluarga karena gua belum bisa ambil cuti dari kantor ahahah. Dan seperti biasa di mana ada kegabutan, di situ ada ruang yang terbuka buat overthinking.

Jadi, di tengah-tengah usaha gua untuk drafting bab lanjutan buat Room 404 (yang mana usaha tersebut berbuah sekitar 17 wordcount dari pagi sampai malam), a random tought suddenly hit me like: anjir kalau aja menulis itu orang---atau minimal kata benda---mungkin udah gua nikahin kali ya.

Well, mungkin itu pikiran yang agak tidak pantas buat berdenging di otak orang yang update tulisannya cuma satu kali dalam sebulan (atau bahkan kurang WKWKW). Tapi serius, if writing were a person, I'd definitely fuck them till they're numb. Karena meskipun di Wattpad atau di blog gua jarang update, sejujurnya setiap hari pasti ada aja sesuatu yang gua tulis di note. Mau itu ide buat lanjutan chapter, kerangka plot buat cerita baru yang entah ke berapa (ini hobi gua sih asli, bikin outline cerita baru terus nulis chapter 1-nya terus diendapin dan dilupakan wkwk), atau biodata OC baru yang dibuat cuma gegara baru aja nemu nama keren, dsb, dsb. 

Gua buka-buka lagi file-file gua di laptop, di note hape, di Mirro bahkan (gua pake ini buat mapping alur) ((kadang)) (((kalau lagi rajin))). Gua bisa nemu berbagai catatan berantakan tentang cerita-cerita yang gua rencanakan entah dari tahun kapan. Baik yang udah gua publish maupun masih draft karena gua belum siap komitmen buat menggarapnya sampa tuntas. Banyak juga catatan-catatan tentang kejadian nyata atau cerita orang yang gua note untuk diadaptasi entah jadi cerpen atau a whole damn novel. Kayaknya gua kalau nemu kejadian atau orang ajaib di dunia nyata tuh, otak gua langsung otomatis mikir apakah gua bisa jadiin hal tersebut sebagai materi buat cerita fiksi wkwkw.

It is just fun. So much fun.

Gue bisa bayangin kalau nggak ada yang namanya menulis, di hari libur gabut kayak gini gua mungkin cuma bakal doomscrolling dari pagi sampai malam. Kalau nggak ada nulis, kayaknya gua bisa jatuh sinting di waktu-waktu kosong semacam ini. 

Pokoknya gua harus berterima kasih sih sama manusia purba yang udah corat-coret di dinding gua. Sama orang-orang Sumeria yang nemuin huruf paku dan bikin manusia masuk ke zaman aksara. Sama siapapun itu yang pertama kali mencetuskan ide untuk mendokumentasikan sesuatu di atas batu. Look where we're at now.

Jujur, gua cuma mau meracau nggak beraturan aja sih di entri kali ini. This post might get cringey so get ready. Hahaha. Dan gua kemungkinan juga bakal oversharing. Banyak hal yang pengen gua keluarin dan gua sampahin di sini. Karena ya... I am just so grateful to have this thing that I love and still love to do. Thing that can absorb and consumed me whole. 

Pertama kali gua nulis itu waktu kelas 6 SD. Manual. Pakai pensil sama halaman sisaan buku catatan sekolah. Gua nulis tuh cuma berangkat dari penokohan. Kayak kepikiran tokoh anak kembar tiga, kehidupan suatu kelas yang terancam dipencar(?), terus romansa cewek tomboy dan anak pindahan di sekolah. Pokoknya kepikiran tokoh dulu aja, plot sama konflik belakangan nggak tahu mau dibawa ke mana. Akibatnya, tulisan-tulisan itu nggak pernah selesai sama sekali haha.

Memasuki masa SMP, bacaan gua kemudian shifting ke arah yang lebih baik. Dari yang mulanya teenlit GPU ke fanfiksi lemon yaoi Akatsuki-AU. Di situlah mata gua terbuka. Cahaya ilahi dari lightsaber pun turut membutakan gwh ketika gua juga akhirnya menemukan skanalasi manga yaoi.

Bercanda.

Maksudnya, mata gua jadi terbuka ke lebih banyak genre. Dan gua tersadar kalau banyak---banyak banget---cerita-cerita super keren di situs-situs semacam FFn dan AO3 yang malah kadang lebih gokil daripada terbitan resmi. Narasi yang kadang lebih indah. Ide cerita yang lebih out of the box. Unhinged, bahkan.

Maksud gua:








Di mana lagi kalian bisa menemukan fandom ultra-minor yang cuma ditopang satu orang pemberani kayak di atas, iya kan? Unleash your imagination, wel. Gua juga masih ingat teman kuliah gua cerita kalau dia pernah baca fanfiksi Sonic x Barack Obama di AO3. 

M-preg. 

Yang hamil Obama. 

Dan gua cuma bisa ber-"anjir" ria. Kepala gua bahkan nggak repot-repot buat meledak.

Di ekosistem yang luar biasa inilah gua menemukan sejumlah penulis favorit gua yang mungkin secara tidak langsung membentuk gaya naratif gua nantinya. Gua awalnya rada "nyontek" style mereka, cuma sepertinya sekarang gua udah menemukan voice gua sendiri. Penulis-penulis di FFn inilah yang bikin gua ikutan instal Wattpad karena mereka pindah lapak ke sana haha. 

Di Wattpad gua pertama kali nemu yang namanya BL dengan setting lokal. Yang ternyata sangat gua sukai dan jadi genre utama yang gua geluti sampai sekarang. Gua publikasi karya pertama kali di Wattpad tuh tahun 2017 dan sebentar lagi akun gua ternyata bakal jalan 10 tahun. Wew. Dasar tua.

Cuma nggak nyangka aja gua bisa konsisten nulis sampai sekarang. Dan sejujurnya masih belum ada rencana buat berhenti dalam waktu dekat. 

Gua jelas bukan penulis terbaik. Dan hal-hal yang gua tulis pun jelas bukan sesuatu yang bermanfaat, bahkan cenderung receh/picisan. Tapi senang aja bisa menyalurkan rasa lewat kata. Gua ingat di chapter konfesi Yose di "Lenggara", ada pembaca yang bilang bahwa dia bisa merasakan tensi yang kuat sampai perutnya muter. Jelas gua langsung senang bukan main ngebaca komen itu karena---ini serius---gua ingat banget nulis chapter tersebut pagi-pagi sekitar jam empat. Sebelumnya gua habis menggeluti tugas studio dan nge-stuck, jadi gua udahan dan mencari pelarian wkwk. Dan entah kenapa gua malah in the mood buat nulis. 

(Gua udah perhatiin juga sih kalau gua kayaknya memang semakin lancar jaya menulis ketika gua sedang tertekan dengan hal lain wkwk. Sepertinya semakin gua pengen melarikan diri dari kewajiban gua, semakin moncer pula kata-kata mengalir di otak gua.) 

Gua inget banget waktu nulis chapter 14 di "Lenggara" itu, gua mengalami hal yang sama kayak pembaca gua tadi. Perut gua muter seolah yang mau konfes itu gua. Semanis-manisnya gua pernah berusaha untuk menulis adegan konfesi, kayaknya gua nggak pernah sampai ngerasain ada kupu-kupu di perut gua  sebegitunya dah. Terlalu alay. Tapi ya begitu lah. Gua pikir zone itu cuma akal-akalan Tadatoshi Fujimaki, tapi mungkin beneran ada kali ya yang begituan. (Kalau aja gua sempat ngaca kemarin mungkin udah ada listrik pink keluar dari biji mata gua).

Padahal di pagi yang sama itu juga gua harus cabut ke kampus jam 9 buat asistensi. Tapi gua kayak nggak rela, bener-bener nggak rela, buat ninggalin laptop dan berhenti ngetik. Kayak gua takut nggak bakal dapat ritme seenak itu lagi buat ngerampungin chapternya. (Dan memang nggak pernah mengalami feeling sebegitunya lagi sih setelahnya).

Yah, intinya gua cuma mau cerita kalau gua senang banget ketika hal yang gua rasakan waktu nulis itu bisa dirasain juga sama pembaca. Dan itu nagih. Kayak beneran nyalain hormon di otak gua. Pernah ada beberapa pembaca yang bilang bahwa tulisan gua memabukkan atau nanya kenapa diksi gua semakin ke sini semakin memabukkan. Jadi nempel di otak gua karena mereka pakai istilah yang sama untuk mendeskripsikan perasaan mereka. Mabuk. Bikin gua seketika langsung mikir sok iye semacam; nah, I was probably as good as drunk while writing those shits.

Masa-masa gua menulis "Lenggara" sama "Aitreya" mungkin adalah masa di mana gua lagi cinta-cintanya sama menulis. Gua nangkap beberapa komentar juga bisa menanda kalau gaya tulisannya berbeda drastis sama karya-karya highschool-romcom yang sebelumnya gua tulis. Tapi sebetulnya, sebelum gua ngerjain "Cliche(s)" dan "Snacking" gua memang mulanya nulis dengan serius (alias mulai nulis cerita yang benaran "utuh") itu di genre semi-psikologi ataupun satir-satiran begitu. Terpengaruh kuat dari bacaan gua di FFn dan AO3. Gua sempat publish beberapa judul di Wattpad, yaitu "Sepekan dan Dua Hari", "Biru Berlian", "Api Asa", dan "Differ and Deeper". Cuma kurang laku jadi gua coba nulis di genre romansa anak sekolah yang lebih rame pembacanya. Dan ternyata gua juga sangat bisa menikmati menulisnya. Win-win solution.

Sekarang sih gua masih berniat coba eksplorasi ke genre lainnya lagi. Moga-moga masih bakal asik buat dibaca. Kayaknya sekian dulu postingannya, udah lumayan panjang ini. Makasih kalau ada yang udah sabar menyimak curcol gua. Sekali lagi, selamat tahun baru. Gua harap di tahun ini kita semua tetap bisa mempertahankan hal-hal yang bikin kita nagih, baik itu orang, benda, maupun kata kerja lmao. Cheers!


[entri ini ditulis 1 Januari 2026, diedit dan diunggah 3 Januari 2026 karena penulisnya mager merapikan draftnya]



   



Komentar

Postingan Populer